Welcome

Indonesian Geographic - Trip Story


The Incredible Komodo National Park
Published : Jan 29, 2012 04:25:50    By: Chusen Aun    Number of Visit : 386
The Map location
Long Weekend

Berawal dari long weekend hadiah dari sebuah tanggal merah tahun baru China, terbesit ide untuk melakukan perjalanan pada sekitaran tanggal 18-22 January 2012. Dari beberapa destinasi yang ada di pikiran, tertujulah pada satu pilihan yaitu Taman Nasional Komodo. Organizer dari IGeo berencana untuk mengadakan trip Diving dan Sailing di taman nasional komodo. Dengan gambling terhadap cuaca bulan January dimana Indonesia sedang dihadapkan dengan cuaca Extreme saya meyakinkan diri untuk mengikuti trip Diving.

Cuaca Extreme

Trip diving dan sailing sama sama dilakukan dengan LOB (Live On Boat) hanya saja perbedaanya adalah, trip sailing berawal dari Lombok berlayar menuju Labuan Bajo lalu dari situ menuju dan berkeliling di Taman Nasional Komodo dan bertemu dengan peserta Diving di Pulau Rinca. Namun berdasarkan atas keputusan pemerintah daerah Nusa Tenggara Barat yang menyatakan pada bulan bulan cuaca extreme kapal dari NTB dilarang melakukan pelayaran, maka trip sailing dibatalkan. Sedangkan trip Diving tetap dilaksanakan karena tidak berlayar dari NTB, melainkan langsung dari Labuan Bajo.

Beberapa hari menjelang keberangkatan, ada informasi dari salah satu peserta memberitahukan prakiraan cuaca TN Komodo yang mengacu pada hasil prakiraan BMKG bahwasanya cuaca cukup baik selama perjalanan dalam 5 hari 4 malam kedepan. Berita yang cukup membantu meyakinkan diri untuk tetap mengikuti trip ini.

Labuan Bajo

Pada hari H ketika pesawat yang kami tumpangi touch down di Labuan Bajo, saya terheran dengan cuaca yang terik dan cerah di musim yang menurut catatan sedang extreme. Dengan semangat bergegaslah kami untuk bersiap siap menuju ke Pelabuhan. Sampai di pelabuhan sejenak berbincang-bincang dengan pak Condo, seorang yang sederhana merupakan PADI dive instructor pemilik dari CN Dive Center yang sudah melakukan penyelaman sejak tahun 1987 di sekitar Taman Nasional Komodo. Beliau juga merupakan pioneer yang melakukan pencarian diving spot yang ada disekitar Taman Nasional.

Cuaca cerah pelabuhan, mengusik beberapa dari kami untuk berkeliling sekedar melihat lihat suasana pelabuhan. Labuan bajo sudah sangat terkenal di turis asing terutama dari Australia, sehingga disana banyak bersandar kapal kapal luxury yang kebanyakan milik orang asing. Bisa dibilang cukup bersih, dan bisa dibilang cukup kotor juga. Pengelolaan sampah yang mungkin perlu dibenahi membuat pantai pantai sekitar pelabuhan masih terdapat sampah sampah plastik bertebaran. Namun jika dibandingkan dengan pelabuhan besar dengan jumlah penduduk yang lebih banyak seperti kota kota besar, mungkin lebih baik, karena air lautnya masih cukup layak untuk dikatakan sebagai pelabuhan bersih.

Suasana pelabuhan mulai dibenahi agar lebih menarik turis terutama turis asing. Disekitar pelabuhan mulai banyak terdapat dive center – dive center, trip operator, restaurant, hotel, dll. Hanya saja sangat disayangkan karena belum adanya kantor Imigrasi bahkan dibandara pun belum ada. Sehingga terdapat isu isu bahwa banyak imigran gelap yang masuk melalui perairan Australia.

Kapal LOB

Setelah melakukan registrasi di balai konservasi taman nasional komodo, kami bergegas loading menuju kapal LOB Embun Laut. Kapal cukup besar dengan 7 kamar (single/double) dengan beberapa kamar ber AC, 2 kamar mandi, deck/tempat berkumpul cukup besar, mampu menampung 5 ton Air tawar yang dipergunakan untuk masak/bilas/mandi adalah fasilitas yang lebih dari cukup untuk melakukan perjalanan diving selama 4 hari di sekitar Taman Nasional Komodo. Dengan 12 peserta diving trip, kamar yang disediakan pas dengan jumlah peserta, peserta bisa lebih, namun harus bawa sleeping bag bagi yang tidur di Deck kapal. Juga terdapat satu boat sedang khusus untuk perlengkapan diving, tangki, kompresor dan satu speed boat kecil untuk emergency.

Bersandar di Wingkol

Selesai loading dan semua peserta sudah naik, kapal langsung bergegas menuju Taman Nasional Komodo. Sejauh ini cuaca masih sangat baik, perkenalan dengan peserta lain saling tegur sapa terjadi di atas kapal. Keakrabanpun mulai tercipta dari perbincangan perbincangan diatas kapal. Dalam perjalanan menuju lokasi untuk kapal bersandar, kami disajikan pemandangan pulau kecil kecil dengan kontur bebatuan dan dipenuhi dengan savanna hijau dengan sedikit pohon besar bahkan terdapat pantai-pantai pasir putih disekitar pulau. Keadaan kepulauan yang seperti ini memang sudah biasa di sekitar Kepulauan Komodo, mungkin juga banyak terdapat diwilayah lain Indonesia, namun kebanyakan ada di Nusa Tengara Barat / Timur. Sambil menikmati perjalanan kami mempersiapkan peralatan untuk melakukan check dive pertama.

Wingkol adalah sebuah teluk terdapat disekitar kepulauan Komodo, disini terdapat bui yang biasa digunakan untuk bersandar kapal besar agar tidak melempar jangkar sehingga tidak merusak terumbu karang sekitar. Suasana sudah mulai gelap, dengan cuaca yang cerah dan ombak yang sangat tenang, kami bergegas untuk melakukan penyelaman pertama disekitar teluk ini. Disekitar sini tak banyak object menarik dibawah air, namun setidaknya semua peralatan diving tidak ada yang bermasalah sehingga siap untuk penyelaman penyelaman berikutnya.

Hidangan Kapal

Bagi anda yang membayangkan hidup berhari hari dikapal pastinya akan berasumsi bahwa makanan yang ada hanya sekitar sea food, sea food dan sea food. Ternyata tidak, di Kapal LOB Embun Laut ini memiliki koki yang mahir memasak, makananya sangat enak dengan stock bahan makanan yang dibawa dari darat. Dari mulai appetizer salad buah hingga menu makanan kelas restaurant disajikan di kapal ini. Tak bosan menyantap sambal rempah yang dihidangkan disetiap jam makan.

Pada suatu sore dimana kita sedang bersandar dan beristirahat setelah diving, saya mencoba peruntungan dengan melempar kail dengan umpan cumi cumi, berharap agar dapat menikmati makan dengan ikan yang masih fresh dari alam. Tak disangka lemparan kail kedua strike dengan tarikan yang cukup kuat hingga mengulur benang pancing cukup panjang. Ikan strike disekitar kedalaman 30 meteran. Dengan semangat melakukan gulat tarik ulur selama lebih dari 15 menit akhirnya dapat mengangkat ikan Kakap merah seberat 7-8 Kilogram. Cukup mengagetkan, karena hanya iseng sambil istirahat malahan menghasilkan hidangan makan malam yang sangat lezat karena dimasak oleh tangan koki masak yang handal. Pada malam itu saya dianugerahi hidangan makan kepala kakap ikan yang sangat enak.

Diving Kepulauan Komodo

Diving di sekitar Taman Nasional Komodo adalah merupakan salah satu dari beberapa dive spot yang cukup extreme di Indonesia. Perairan komodo terkenal dengan arus yang sangat kuat. Dengan keadaan seperti ini merupakan habitat predator serta penghuni laut yang besar. Kurang disarankan dive disekitar Komodo kepada diver diver dengan log dive yang masih minim. Terdapat banyak Manta Ray di Manta Point (Taka Makasar), lebih dari 4 ekor manta kami temui salah satunya berukuran lebar lebih dari 3 meter. Dua kali kami turun di dive site ini, sayang sekali yang kedua kurang cukup beruntung. Disini arus cukup kuat sehingga beberapa orang dari kami terpisah hingga mungkin beberapa kilometer.

Spot Castle Rock (Taka Toko Toko) merupakan karang bawah air yang tidak muncul dipermukaan air. Kedalaman paling dekat dengan permukaan sekitar 3-6 meter tergantung sedang pasang atau surut. Disini arus sangat kuat sehingga memaksa penyelam harus pasang hook dikarang atau berlindung dibalik karang. Dari arah arus, disajikan sebuah pemandangan aquarium Hiu yang berseliweran didepan kami. Terdapat lebih dari 3 ekor Hiu, yang salah satunya cukup besar kira-kira berukuran panjang hingga 2 meter. Kami cukup disulitkan dengan keadaan arus air untuk dapat melakukan pengambilan gambar disini. Namun setidaknya kami dapat secara langsung melihat habitat ikan Hiu sebagai predator teratas dalam ekosistem laut.

Selain itu dive spot yang kami coba adalah Dead Man Rock, Tanjung Gili Lawa, Shotgun, Batu Mandi (Crystal Rock), Batu Bolong, Pulau Kambing. Species yang kami temui hampir sama dengan site site yang lain. Spot yang terkenal di Komodo adalah Batu Bolong. Dari permukaan hanya terdapat seperti karang pecah yang ada lubang yang dapat dilihat dari permukaan. Kenapa sangat terkenal? Disinilah arus liar berada, arus yang sangak kuat dari samping kiri kanan batu bolong dan sangat berbahaya karena terdapat beberapa down current seperti toilet, barang siapa berada disekitar itu akan terbawa arus hingga kedalam.

Namun dibalik ganasnya arus di Batu Bolong, terdapat sehatnya ekosistem yang ada disekitar batu tersebut. Dengan kontur wall yang sangat indah, terumbu karang yang sangat sehat, serta biota laut yang beraneka ragam, ikan ikan yang sangat melimpah dapat ditemui di site ini. Kami hanya menyelam disekitar balik batu agar tidak terbawa arus. Di kedalaman 30an meter terdapat ikan raksasa napoleon yang ukuranya sangat besar, Hiu juga terdapat di sekitar site ini.

Dari semua dive site yang kita coba mayoritas adalah bermusuhan dengan arus. Untuk mendapatkan visibility yang bagus di komodo, disarankan berkunjunglah pada bulan bulan Juni hingga Oktober, dimana cuaca juga sedang cerah.

Pulau Rinca Habitat Komodo

Hari terakhir live on boat di Taman Nasional Komodo, kami sempatkan bermain ke Loh Buaya Taman Konservasi Komodo yang terdapat di pulau Rinca. Berjalan dari pelabuhan LOH buaya tak jauh terdapat kantor konservasi komodo. Komodo sendiri berada bebas berkeliaran disekitarnya. Disini Komodo tidak diberi makan, melainkan mencari makanan sendiri. Masih terdapat banyak habitat Rusa, Kerbau Hutan, Kuda Hutan, dan lain lain yang bisa menjadi sumber makanan bagi komodo.

Komodo tidak memiliki racun, melainkan memiliki air liur yang mengandung berbagai macam bakteri, komodo tahan dengan bakteri tersebut, namun makhluk lain jika terkena inveksi akan berakibat hingga kematian. Teknik berburu komodo ialah dengan berpura pura malas malasan, namun ketika mangsa mendekat segera langsung menggigit mangsa tersebut. Komodo dapat berlari hingga kecepatan 18km/jam. Mangsa yang tergigit tidak langsung mati, dan komodo tidak mengejar mangsa seketika. Namun mangsa didiamkan hingga mati terkena bakteri air liurnya. Ketika sudah mati, komodo mampu mencium bau darah hingga 20Km dengan kemampuan itu komodo menemukan mangsanya. Biasanya siapapun pemangsanya, pasti akan terdapat banyak komodo yang menyerbu mangsa tersebut.

Dari sini trekking sedikit keatas bukit untuk melihat panorama pemandangan pulau Rinca. Dari puncak bukit tersebut juga terlihat pulau pulau kecil disekelilingnya. Seusai berkunjung dari Rinca, kami bergegas menuju kapal untuk segera kembali menuju Labuan Bajo. Dikarenakan sudah cukup gelap, kami tidak melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo dan menginap di sekitar pulau Kalong.

Kembali Pulang

Pagi subuh kapal segera melaut kembali meneruskan perjalanan menuju Labuan Bajo. Ditengah perjalanan, ombak mulai menyambut perlahan, kapal mulai bergoyang dan lama kelamaan tinggi ombak hingga 2 meter an. Kami bersyukur ketika selama perjalanan disekitar komodo dianugerahkan cuaca yang sangat cerah dan ombak yang sangat tenang. Sekitar satu jam bertautan dengan ombak yang cukup tinggi, akhirnya menepi sudah ke Labuan Bajo. Tersiar kabar bahwa terdapat gempa di Manggarai Flores, lagi lagi bersyukur kami tidak terkena imbasnya. Pada hari kita tiba di Labuan Bajo, terdapat peringatan dari pemerintah setempat mengenai larangan melaut kapal kapal dari Labuan Bajo dikarenakan cuaca extreme, bersyukur kami kembali pulang dengan selamat.

Taman Nasional Komodo adalah salah satu tujuan wajib untuk dikunjungi bagi anda orang Indonesia. Yang saat ini merupakan salah satu dari 7 keajaiban dunia. (oleh: Chusen Aun)

User Login

Username :
Password :
 
Create new account
Lost Password?

Advertisement